• Title: Jejak Tinju Pak Kiai
  • Author: Emha Ainun Nadjib
  • ISBN: 9789797093631
  • Page: 346
  • Format: Paperback
  • Jejak Tinju Pak Kiai Bagaimana kita menyikapi hal ini Tidak hanya itu saja Cak Nun yang sangat peduli dengan rakyat kecil gelisah dengan musibah Pasar Turi di Surabaya gelisah dengan nasib TKI di Malaysia gelisah dengan
    Bagaimana kita menyikapi hal ini Tidak hanya itu saja Cak Nun yang sangat peduli dengan rakyat kecil gelisah dengan musibah Pasar Turi di Surabaya, gelisah dengan nasib TKI di Malaysia, gelisah dengan masalah lumpur Lapindo yang tak kunjung usai Bahkan, kegelisahannya bertambah, soal Pilkada yang cenderung kisruh di berbagai daerah Serta tulisan lain seperti AustranesiBagaimana kita menyikapi hal ini Tidak hanya itu saja Cak Nun yang sangat peduli dengan rakyat kecil gelisah dengan musibah Pasar Turi di Surabaya, gelisah dengan nasib TKI di Malaysia, gelisah dengan masalah lumpur Lapindo yang tak kunjung usai Bahkan, kegelisahannya bertambah, soal Pilkada yang cenderung kisruh di berbagai daerah Serta tulisan lain seperti Austranesia, Pecel Suriname, Buto Kempung, Tanah Halal Air Halal, Mudik Keluarga Bangsa, dan sebagainya.Seluruh tulisannya ini akhirnya bermuara bagaimana perlunya bersikap arif dan melatih kesabaran, perlunya menjadi makhluk wajib yang berguna bagi sesama, meninggalkan kesombongan, fanatisme yang berlebihan, serta mencanangkan rasa nasionalisme Akan tetapi, dalam memandang berbagai persoalan, Cak Nun tidak terkesan menggurui, justru memberikan solusi dan daya tambah untuk melapangkan dada dan membeningkan hati dan pikiran.

    One Reply to “Jejak Tinju Pak Kiai”

    1. Refleksi atau komentar2 Cak Nun mengenai masalah2 yang ada disekitar kita, menjadi bahasan menarik.Sindiran, saran, kritik pun terlontar dalam buku ini.Ada satu cerita yang menarik untuk saya di buku ini, yaitu yg b'judul Nyicil simpati kepada setan. Lah wong, setan aja dah bosan sama manusia zaman sekarang yang sangat kreatif dalam memanipulasi, menipu, menjerumuskan orang lain. Setan pun berkata: klo keadaannya kayak gini mah ga ada tantangannya. Knp? Krn manusia tanpa digoda dan dirayu setan [...]

    2. Cak Nun bergerak lincah dalam kata-kata, meski dalam beberapa artikelnya ada ide yang berulang. Buku ini enak dibaca. Tampilan kertasnya yang ringan juga membuatnya makin enak dibawa ke mana-mana. Saya senang membacanya. Tak butuh lama untuk dapat menghabiskan buku ini.Cak Nun tak perlu membuktikan apa-apa lagi untuk menajamkan kearifannya. Segala macam topik, yang dengan istilahnya "berbagai-bagai", menjadi rangkuman kearifannya yang mempesona. Dia melihat dari sisi yang agak berbeda. Menapakai [...]

    3. Membaca buku ini, saya seperti sedang digempur terus oleh seorang Ellyas Pical dengan pukulan hook dari tangan kirinya yang keras. Terarah dan mematikan.

    4. Of course lantaran ini karya Emha. Yg gw punya banyak koleksi buku2nya. Tidak terlalu istimewa. Masih standar Emha.

    5. Buku karangan Emha Ainun Najib yang pertama kali saya baca adalah buku ini. Diterbitkan sejak beberapa tahun yang lalu namun baru tertarik membacanya setelah membaca salah satu buku M.Faudhil Adzim, Dunia Kata. Dalam buku M. Faudhil Adzim, disebutkan bahwa dua dari pengarang yang karyanya unik adalah, Emha Ainun Najib dan Umar Kayam. Yang direkomendasikan oleh beliau sebenarnya Pojok Sejarah nya Cak Nun (populer name) dan Seribu Kunang-Kunang di Manhattan nya Umar Kayam. Namun, di Perpustakaan k [...]

    6. Presiden dan seluruh jajaran pejabat birokrat adalah PRT alias pembantu rumah tangga rakyat. Rakyat membayarnya, menyediakan kantor, rumah dinas, kendaraan, serta segala kelengkapan untuk menjalankan tugasnya. Yang memilih lebih tinggi derajatnya dan lebih berkuasa dari yang dipilih. Rakyat adalah juragan dan pemerintah adalah buruh. –Jejak Tinju Pak KiaiSaya masih terlalu minim dari segala hal untuk me-review buku ini. Namun izinkan saya memberikan komentar pembaca. Buku ini mengetuk hati say [...]

    7. esai-esai pemikiran khas caknun di buku ini mengingatkan kita apa yang terjadi pada sekitar tahun 2004-2007an di Indonesia.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *